saat suara ku tak terdengar, maka barisan kata mampu membuat ku terlihat
Entri Populer
-
terlalu sulit untukku memecah karang sedang, dakian terjal kehidupan terus berlanjut waktu datang, waktu yang pergi ego yang meradang t...
-
aku tau awanmu, runtuh sebelum sempat ia menghitam, mendung kini saat kau rindu, tanah pijak mu tak lagi basah padahal, pernah kau abai...
-
waktu kisah yang terus berlalu iringan cerita, jalinan cinta terpekur, termangu menatap awan kegembiraan yang meninggalkan goresan luka ...
-
"aku memimpikan kisah cinta negeri dongeng.." "bah! itu lelucon, nak.. jangan kau masuk dalam impian sampah itu" ...
-
lihatlah tuan, apa yang kau lakukan pada mereka senjanya telah kau ambil, sementara pagi mereka telah kau curi tidakkah kau melihat ada ...
-
kaku lidah dalam kalimat yang menggunung sesak. sekali saja dengarkan hati ini, dan lihat yang ada didalam apa kau lupa, yang terluar it...
-
ego manusia, sekeras batu, setajam karang ego cinta, selembut angin, serapuh kelopak ego ku, untuk mencintaimu
-
mengapa tidak semua perasaan mampu terucap keluar padahal, ketika apa yang kita rasakan terucap, mungkin akan menambah ruang lega dalam di...
-
dalam gelap realita dusta tumbuh sekelumat lumut tak berbunga kelam malam hidup tanpa cahaya sinar bulan yang mati, jerit malam memekik ...
-
Pagi Wanayasa, selimut angin berlari dengan menggenggam dingin hujan ribuan titik air, ratusan gumpalan embun bahasa pagi dan, jutaan r...
Sabtu, 22 Januari 2011
ego
ego manusia,
sekeras batu, setajam karang
ego cinta,
selembut angin, serapuh kelopak
ego ku,
untuk mencintaimu
Selasa, 18 Januari 2011
saat ini
mencintai dengan segala kurangmu
membuat perjuangan begitu berarti
memilikimu karena cintaku
membuat kehidupan begitu ku syukuri
meninggalkan setiap jejak lalu
mencoba menapaki sebuah kehidupan baru
Senin, 17 Januari 2011
Pagi di Wanayasa
Pagi Wanayasa,
selimut angin berlari dengan menggenggam dingin hujan
ribuan titik air, ratusan gumpalan embun bahasa pagi
dan,
jutaan rasa rindu
mengetuk, menyapa, meninggalkan
matinya sang rindu
serapuh mawar, setajam duri
kerinduan yang berdiri sendiri tanpa sangga
rapuh,
jatuh ke tanah
dilihat sang bulan, ditangisi oleh sang bintang
pagi ini,
sekali lagi tak bernyawa
Langganan:
Komentar (Atom)